Limerence

The sound of my name from your lips

The gentle caress of your hand

The flutter it caused in my chest

The resonant song in my ears

The stories of what has been

The promise of what will be

The kiss that never was

The dream that never ends

The intensity of this

and the momentary us

Paralleled,

and with a staged intimacy

mirroring my limerence

November 21, 2015

Today, I had you for myself

Had not intended to, but I drank happiness of you

As always, was it the circumstances,

or was it the times of previous absence,

to which I owe the bliss?

You were on stage

Your voice blaring, children laughing

You put on display

A wide grin sometimes for your own stupid jokes

A wide smile sometimes for your love of kids

You looked great, by the way

Your short hair looked good on you

I had thought you’d never ask

But you did, for me to come to your side

For a friendly company

But, boy, for me it has never been

a simply friendly thing

So for this brief Saturday afternoon

To this golden-hearted boy

I once again had a fling

And the magic wore off

when afternoon turned to night

and you were back to be someone else’s

on a Saturday night.

***

Tidak ada judul untuk puisi ini, yang dibuat setelah saya bertemu dengan dia (lagi-lagi di sebuah acara). Saat itu, sudah hampir setahun (atau lebih?) kami tidak bertemu, dan kehidupan cukup menyenangkan bagi saya. Karena itu, saya tidak menyangka bahwa akan ada lagi tulisan tentang dia. Tidak ada habisnya. Kalau begini terus, lama-lama saya harus bayar royalti padanya.

Ranjana/Tikta

Ranjana — seperti itulah kamu terlihat

Tapi kamu itu Tikta

Orang tanya apa yang kulihat darimu

Perlukah kujelaskan?

Tak urung kujawab juga pertanyaan bodoh mereka

Kukatakan hatimu terbuat dari emas

Persahabatan denganmu saja nilainya berat seberat emas

Ranjana si penggoda yang selalu tertawa

Ranjana yang selalu disukai orang

Sedangkan Tikta–

Ah, siapa yang tahu Tikta

Buat apa kenal Tikta jika kau sudah kenal Ranjana

Padahal Ranjana adalah Tikta dan Tikta adalah Ranjana

Padahal Ranjana tidak ada kalau bukan untuk Tikta

Sedang aku–aku melihat Tikta

Nyaman dan aman bergelung di balik Ranjana

Rapi sekali tertutupi hingga mudah terlewatkan

Kutanya, kenapa, Tikta?

Kenapa tidak keluar ke hadapan orang?

Orang merasa, Tikta menjawab

Sudah cukup orang merasa, biar Ranjana jadi wajahku

 

***

Ranjana berarti “bergembira”, sedangkan Tikta berarti “hati yang dalam”. Keduanya berasal dari Bahasa Kawi. Pada tanggal 10 Maret 2014, sepertinya saya sudah mulai mengenal dia. Sebagian dari diri saya mulai merasa bahwa dia bukan pelawak kelas kakap yang selalu diperlihatkan olehnya; bahwa dia adalah aktor yang berdiri di atas panggung bernama kehidupan. Tiga tahun kemudian, saya semakin yakin itulah dirinya yang sebenarnya. Pertanyaannya: apakah saya akan kuat terus-menerus turut tampil tanpa diminta? Saya bukan aktor, pun tidak pandai belajar akting.

Namanya Maira

Namanya Maira.

Dia bukan Putri Indonesia,

Dia bahkan bukan Madonna

Dia bukan Fatimah ataupun Aisyah

Apalagi Khadijah

Dia juga bukan Putri Diana

Namanya Seto.

Dia bukan Al Pacino,

Dia bahkan bukan Don Juan

Dia bukan Casanova ataupun Leonardo DiCaprio

Apalagi sahabat Nabi

Dia juga bukan Sandiaga Uno

Maira dan Seto dipertemukan dalam suatu kondisi

Bukan sebagai Romeo dan Juliet

Bukan Rama dan Sinta

Maira dan Seto dipertemukan di kampus tercinta

Di mana ambisi dan hidup bersaing secara sehat

Menggilas hati, menggoda romansa

Tapi kuasa bukan di tangan nasib

Karena cinta tiba di hati Maira

Sekuntum bunga yang mudah patah tapi berani tumbuh

Dan saat teman berkata “Jadilah kalian,”

“Iya” adalah jawaban Maira

“Iya, dengan senang hati”

Tapi cinta bukan jalan satu arah

Karena bagi Seto, Maira adalah bagian dari hidup

Sewajar langit dan laut bersisian

Sewajar matahari dan bulan berganti

“Semua sama” adalah respon Seto

“Maira tidak istimewa”

***

Rangkuman dari apa pun yang ada di antara kami: begitulah deskripsi yang tepat untuk rangkaian post ini. Ketidakistimewaan saya bukan hal baru, tapi baru kali ini saya merasa ikhlas mengenangnya. Pada saat dia dan saya menjadi teman, masa lalu seperti ini menjadi hal yang dapat kami tertawakan.

High

I was scared

I didn’t know what to think

I didn’t know what to do

I saw you were high and you put on this idiotic smile

And so my heart beat faster

Oh, no, it was not at all bad

You were all loosened up and cheerful

Though your drowsy eyes were still the same

And you said things that made me truly thrilled

“Where have you been?” you asked

“Been looking for you back there.”

If you remembered,

It was your second time saying you were looking for me

The first was a year ago when I had missed your play

It might have been the lights

The people

The place

The circumstances

It might have been your state of drunkenness

That got me overwhelmed with excitement

I was there all the time

I was watching you went on and on about stuff

I saw you standing under the spotlight

And so suddenly I felt the urge to hug you

To hug and hold you tight

But I couldn’t

Watching you from afar was the best I could do

With the heart that beat too fast

And I found myself carried away

By your ridiculously strong presence

And the state of being high was felt throughout my body

 

***

Berlanjut hingga 13 Oktober 2013. Saya takut melihat dia yang tipsy di sebuah acara (apakah tipsy istilah yang benar?). Saya rasa saya datang ke acara itu hanya karena ada dia, padahal saya tidak tahu apa yang mau saya lakukan di sana. Pada akhirnya, saya seperti orang tersasar dan, dibanding senang, saya lebih merasa gila dan tertekan. The things I do for love.

Biar

Sekali lagi,

untukmu yang sedang berjuang

yang memeras keringat hingga tak setetes pun tersisa

yang dengan kedua kakimu datang dan pergi tak henti jua

Mungkin doa yang kupanjatkan hanya setitik air dalam lautan

Hanya batang rumput dalam hutan

Namun, izinkan aku menyambut datangmu dengan doa

agar Tuhan angkat lelahmu

Izinkan aku mengantar pergimu dengan doa

agar Tuhan selamatkan dirimu

Izinkan aku menunggu kembalimu dengan doa

agar Tuhan jamin kebahagiaanmu

Dan izinkan aku mengelap peluhmu dengan doa

agar Tuhan lihat semangatmu

Dan dengan doa pula aku melepasmu…

Agar Tuhan biarkan aku jadi tempat pulangmu

***

Dengan doa pula aku berharap Tuhan tidak menggodaku karena menjadi seputus asa ini. Pada tanggal 2 Oktober 2013, saya begitu putus asa, dan mulai muncul sakit hati karena ekspektasi yang begitu tinggi. Saat itu saya pikir dia sungguh luar biasa karena sangat berdedikasi pada kampus sehingga membuatnya kelelahan… sebelum saya tahu bahwa dia memang suka menjadi martir. Memang karakternya. Bukan hal buruk, tapi sekarang saya bisa tidak secemas saat itu soal dia.

What Comes to Mind When the World Falls Silent

What comes to mind when the world falls silent

Is a playback of a scene

Where the two of us meet

Are the words that were said between you and me

What comes to mind when the night fades out

Are the wounds we created out

Of the mistakes we failed to avoid

And…

Streaming down my face are the truths I refuse to see

 

***

A favorite for no reason. Masih di tahun 2013, masih tidak dapat saya ingat kenapa saya menulisnya. 2013 adalah tahun ketika dunia saya hanya terdiri dari lapisan-lapisan perasaan.