Heads-up!: A Birthday Challenge

August is finally coming!

Summer is coming to an end, but my birthday hype is just getting started!

They say 25 is the doomed period for some – heck, it even has its crisis: quarter-life crisis, so it’s called – so I want to start my 25th year of breathing our Mother Earth’s air (despite however polluted and horrid) by doing something special: writing a Quran verse each day for the whole month and how it can be applied to my life or whatever problem I will be dealing with.

I’m not exactly religious and I usually can’t see a project through so this would be a great challenge for this non-committed, self-proclaimed free spirit. A great, great challenge.

Let’s see if I can finally commit to one routine (for a month! Shame if you can’t, Mela).

Anyway.

Bear with me!

Acknowledgment

“I love you,” I heard that voice said.

Always at the most unexpected moments: on my way home, in my bedroom, during a trip, when I am working, on a random street, in the middle of the night, when I look at the sky and think of beautiful things. Just for a split second, “I love you.”

But do not misunderstand.

The Love is neither obsessive nor possessive. It does not want and does not claim although it can be quite overwhelming. After all, the Love floods the Heart with suffocating emotions.

Both everlasting and ephemeral, the Love transcends time. In that split second, the Love stands for what has been and what could be – encased in a transitory episode.

The Love speaks of friendship and brotherhood and sisterhood. It speaks of mentor and pupil. Of parental figure. Of guidance. It speaks of Love in its sincerest sense. It is present through and through.

Nay, this is not a confession.

This is an acknowledgment of what I can no longer deny. An acknowledgment of what I can no longer pretend to be a romantic fantasy.

The Love is now our bond, along with enough trust and understanding. Sometimes, with boundaries and distance,

like the spaces between words and the five-paragraph rule of an essay.

 

Tenchi

We were friends and then we were not. And then we were friends again, but this time I started to like you. And then we were some sort of enemies and some sort of close friends. And then we started over. And now we really are close friends with a lot has gone through. And all the way, I have loved you. More and more.

And you are my heaven and earth.

 

***

Alasan tag semua post yang berkaitan dengan dia adalah “tenchi” merupakan post ini. Saat itu sepertinya saya baru bertengkar hebat dengan dia, kemudian saya malah merasa lebih dekat dengannya. Hal tersebut dia akui juga: bahwa pertengkaran mendekatkan kami. Mengingat pertengkaran kami biasanya sangat hebat dan melibatkan kekeraskepalaan kami yang luar biasa, dibandingkan “heaven and earth”, dia lebih tepat disebut “heaven and hell”

Let the Night

Let the night be my witness of the pause of a time I am about to recall of a night blurred with the ecstasy of euphoria.

I remember how you seek out for my hand once you caught a glimpse of me and how you tracked me down with your eyes. Your eyes and your eyes only; not your thoughts because it wandered to the sea of people and because the center of the last curtain call was you, this euphoria all came from you.

So, darling, I handed out the last piece of the present I had promised you and I remember that look in your face, the humor in your eyes, and the delighted pitch in your voice, and so you hugged me, not knowing it meant the world to me.

Can’t you hear? It’s my hand, my embrace, my body telling you everything.

The relief,

happiness,

sadness,

longing,

affection.

Can’t you hear?

It was the one hug I need to be satisfied with. It was the one chance I could deliver to you what your presence has brought upon me.

So let the night be my witness of the pause of a time I wish would last ephemerally of a night blurred with the ecstasy of euphoria.

And congratulations to you, may the night send it to your window.

***

Saya jatuh cinta, sangat jatuh cinta. Begitu penuh cinta itu memenuhi hati saya, sehingga saya rajut syal dan kupluk untuknya. Ironisnya, di tahun 2013 ketika perasaan saya memuncak, datanglah seorang perempuan dalam hidupnya. Jadi, mungkin saat saya sedang mencintai dia, dia sedang mencintai gadis itu. Kemudian, kupluk itu menghilang bahkan dari ingatannya. Kenapa saya merelakan malam-malam ketika saya bisa beristirahat untuk merajut benda yang akan segera dia lupakan? Karena itulah indahnya masa-masa jatuh cinta: tak ada pamrih. Apa saya ingin kembali ke tahun 2013? Terima kasih, tapi tidak. Saya sekarang lebih mencintai tidur dibanding dia.

Memulai Kembali

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

1496321629218

Mengulang langkah pertama.

Itulah yang saya rencanakan saat saya mengubah address name blog ini dan menghapus semua posts yang telah saya tulis. Belum ada hal besar yang terjadi dalam hidup saya, tapi saya merasa perlu membuat sebuah perubahan yang memiliki arti signifikan. Salah satu caranya, dengan memulai kembali sebuah blog tempat saya menulis.

Sesuatu yang simbolik

Saya pernah (masih) memiliki sebuah blog di situs lain. Blog yang sudah berjalan bertahun-tahun itu merekam jejak pertumbuhan saya, sehingga tidak ingin saya hapus. Namun, di satu sisi, saya ingin juga menata ulang tulisan-tulisan saya agar seolah saya bisa menata ulang kehidupan yang telah berlalu dan memulai lagi dengan rapi. Seperti halnya awal tahun sekolah, buku dan seragam baru memberi kesan kita membuka halaman baru. Halaman kosong. Semua kekacauan dan kesalahan yang terjadi tidak lebih dari sekadar cerita.

Dalam blog-blog saya yang lalu, baik yang sudah berjalan bertahun-tahun ataupun yang saya buat hanya demi keperluan sebuah grup, saya menuliskan berbagai hal: dari puisi asal-asalan hingga hal-hal yang bersifat terlalu pribadi. Kali ini, saya berencana untuk lebih banyak menuliskan fiksi, puisi (meski kemungkinan besar masih akan tetap asal-asalan), dan ulasan tentang berbagai hal. Saya juga berencana akan menuliskan kembali beberapa karya yang saya sukai. Meski rencana hanyalah rencana, semoga saja rencana ini dapat terlaksana.

Kemudian, sejujurnya saya berharap banyak yang akan membaca blog ini. Akan tetapi, keinginan tersebut diwarnai sedikit dilema karena saya cemas akan menuliskan hal yang terlalu dekat dengan bagian diri yang ingin saya sembunyikan dari orang lain. Semoga saja saya bisa lebih mengendalikan diri dan tidak menulis hal-hal yang akan saya sesali di kemudian hari karena, lebih dari segalanya, saya ingin tulisan saya dibaca dan dinikmati orang banyak.

Aamiin.

Rencana pertama: memindahkan tulisan-tulisan lama

Hal pertama yang akan saya lakukan adalah memindahkan tulisan-tulisan yang pernah dimuat di blog saya yang sebelumnya. Saya akan memulainya dengan tulisan-tulisan soal seseorang yang istimewa bagi saya; sebuah inspirasi yang belum kunjung usai meski tidak lagi menyita pikiran. Karena saya rasa cerita apa pun yang ada di antara kami merupakan hal baik, saya harap karya-karya tentangnya juga merupakan langkah pertama yang baik bagi blog ini dan bagi kehidupan saya yang “baru”.